Opini : "Perbudakan Modern Sektor Perikanan " Oleh Edwin Partogi Pasaribu

| Ditulis Oleh : irfan maulana


Kepolisian Metro Jaya (25/6) menangkap 11 orang tersangka pemalsuan sertifikat pelaut. Para tersangka dalam modus operandinya meretas website resmi Kementerian Perhubungan. Kasus ini terungkap dari pengembangan perkara tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang diawali peristiwa 2 ABK Indonesia Kapal Lu Qing Yuan Yu berbendera RRT loncat dari kapal kelaut yang diungkap Polda Kepulauan Riau.  

Pemalsuan dokumen merupakan salah satu cara pelaku TPPO untuk mempermudah para korban dipekerjakan. Bila merujuk data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) 2015-2019 (Juli) terdapat 122 korban TPPO yang dibekali dokumen palsu.

Loncatnya kelaut 2 ABK Indonesia dari kapal tersebut dilatar belakangi perlakuan yang buruk, kekerasan fisik dari kapten dan sesama ABK asal China dan tidak dibayarkan gaji selama bekerja, keterangan Destructiv Fishing Watch (DFW)- Indonesia (kompas.com, 16/6). 

Kisah tragis 2 ABK yang loncat kelaut ini tidak jauh berbeda dengan pengalaman ABK Indonesia di Kapal Long Xing 629 berbendera RRT, yang viral videonya 6 Mei lalu pada peristiwa pelarungan jenazah ABK Indonesia kelaut.

Terkait ABK Indonesia Kapal Long Xing 629, pada 8 Juni lalu LPSK telah memberikan perlindungan. Perlindungan diberikan berupa Program Pemenuhan Hak Prosedural untuk mendampingi ke14 korban tersebut pada proses peradilan serta fasilitasi penilaian restitusi (ganti rugi oleh pelaku).

Untuk membaca lebih lanjut, silahkan unduh link dibawah..

Selanjutnya download disini