Opini : "Justice Collaborator" oleh Edwin Partogi Pasaribu

| Ditulis Oleh : irfan maulana


Pada kasus korupsi PT. Jiwasraya, Penyidik Kejaksaan Agung, telah mencegah 16 (enam belas) orang ke luar negeri, dan menetapkan 6 (enam) tersangka. Para tersangka 3 (tiga) dari pihak Jiwasraya dan 3 (tiga) dari pihak swasta. Jaksa Agung ST Burhanuddin (27/1) mengatakan jumlah tersangka masih terus bertambah. Bila di antara pelaku di luar pelaku pelaku utama mau bekerja sama dengan penyidik, maka mereka berpeluang mendapatkan keringanan tuntutan dan pidana ringan. Adakah diantara pelaku itu memenuhi syarat sebagai Saksi Pelaku yang bekerja sama (justice collaborator)?

Kasus korupsi Jiwasraya menarik perhatian publik. Daya tarik kasus ini tidak terlepas dari posisi Jiwasraya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kerugian negara akibat praktek lancung ini diperkirakan Jaksa Agung sebesar 13,7 triliun rupiah (18/12/2019). Jumlah yang jauh lebih besar bila dibandingkan ke kasus korupsi bank Century diperkirakan kerugiannya 7 triliun rupiah.

Di antara pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka tentu ada di antaranya ada pelaku utama atau bukan pelaku utama.  Dalam tindak pidana yang pelakunya lebih dari 1 (satu) orang, maka tingkat kesalahan ditentukan oleh peran masing-masing pelakunya. Dalam hukum pidana dikenal beberapa katagori pelaku di antaranya, mereka yang menyuruh melakukan perbuatan (doen plegen), mereka yang turut melakukan perbuatan (medeplegen), mereka yang membujuk supaya perbuatan dilakukan (uitlokken) atau mereka yang membantu perbuatan (medplichtig zihjn). Proses hukum yang berlangsung berpeluang mempidana para pelaku dengan hukuman maksimal. Namun bagi pelaku yang tidak masuk katagori pelaku utama masih terbuka peluang untuk mendapatkan keringanan hukuman. Bagaimana caranya?

Untuk membaca lebih lanjut, silahkan unduh link dibawah..

Selanjutnya download disini