Agenda Korban Terorisme

| Ditulis Oleh : irfan maulana


Ni Made Arsini (47), ditubuhnya masih terdapat gotri. Dia adalah korban Bom Bali II yang terjadi 12 tahun lalu di kafe tempatnya bekerja.

Arsini menjalani operasi di bagian kepala akibat masuk benda-benda padat (gotri) dari akibat ledakan bom tersebut. Hal itu juga berdampak pada penglihatan dan pendengarannya.  Pemulihan akibat luka-luka dia jalani beberapa tahun untuk keharusan cek updan terapi rutin.  Namun ketika bantuan biaya pengobatan yang diberikan NGO Austaralia berhenti tahun 2008, berat bagi Arsini untuk membiaya pengobatan lanjutannya.

Hingga kini Arsini mengalami trauma bila mendengar suara petasan, atau bila melihat pria membawa tas ransel, dia memilih untuk tidak keluar rumah. Secara fisik Arsini juga lebih mudah mengalami flu bila kepalanya terkena angin. Arsini kini tidak bisa lagi membantu suaminya (yang juga korban Bom Bali II) untuk bekerja. Arsini tidak sendiri, banyak korban peristiwa bom lainnya pada Bom Bali I, bom Kuningan, Hotel JW Marriot hingga pengeboman gereja di Solo mengalami penderitaan yang hampir serupa.

Di sisi lain, para korban teroris mengeluhkan perbedaan perlakuan pemerintah terhadap pelaku. Pemerintah mereka nilai lebih memperhatikan para pelaku dan keluarganya melalui program pemberdayaan ekonomi dalam konteks deradikalisasi.

Apa yang dialami Arsini tidak menjadi pengetahuan publik. Perhatian publik kepada korban teroris umumnya berumur pendek. Kenapa? Kerap publik mengira ketika korban mendapatkan perawatan di rumah sakit dianggap prosesnya seperti barang masuk bengkel, keluar dari bengkel dianggap sudah berfungsi seperti sedia kala. Sementara perhatian publik dan Negara lebih awet untuk mengingat jaringan pelaku dan issue keamanan terkait.

Untuk membaca lebih lanjut, silahkan unduh link dibawah..


Selanjutnya download disini